Kalimat menyeramkan itu terdengar sangat natural dalam bahasa Indonesia. Dalam ungkapan itu, subjeknya adalah dompet itu sendiri. Seolah-olah dompet tersebut menghilang begitu saja. Dan sialnya, itu pernah terjadi pada saya.
Kalimat menyeramkan itu terdengar sangat natural dalam bahasa Indonesia. Dalam ungkapan itu, subjeknya adalah dompet itu sendiri. Seolah-olah dompet tersebut menghilang begitu saja. Dan sialnya, itu pernah terjadi pada saya.
Kemarin, Senin, 21 Juli 2026 pukul 2 dini hari saya ikut nonton bareng (nobar) final piala dunia di sebuah kafe. Saya sempat curi dengar ada penonton mengomentari "Ini siapa sih pemain kribo. Oh Cucurella." Dia mengucapkannya sebagaimana pengucapan dalam bahasa Indonesia, cu-cu-rel-la. Mendengar itu, saya sempat ingin berkomentar tapi saya simpan saja dan tetap fokus ke layar besar di depan. Kejadian kecil saat nobar itu membuatku sadar: betapa seringnya kita salah mengucapkan (mispronounce) nama orang, tempat, atau istilah asing dalam kehidupan sehari-hari.
![]() |
| Dokumentasi pribadi yang diambil di Stasiun Busan, Korea. |
Suatu hari pada bulan Juli atau Agustus 2009, di salah satu ruang kelas SMAN 1 Tanjunganom, seorang guru muda masuk dan memperkenalkan diri. "Nama saya David. Kalian panggil saya David-sensei, ya." Dan itulah pertama kalinya saya berkenalan dengan bahasa Jepang —melalui pelajaran muatan lokal (mulok).